Manuver Kristeller, dilema bagi penolong persalinan

Beberapa waktu lalu sebelum saya memulai tulisan ini, terjadi lagi kasus ruptur uteri yang “diduga” akibat aplikasi kristeller pada kala II persalinan. Akibatnya pasien dilakukan SC dengan histerorafi dan bayi meninggal dalam kandungan. Adapun efek post partum yang dapat muncul bisa berupa episiotomi mediolateral, dispareunia dan nyeri perineum (sumber NCBI 2012).

Jika begitu berbahaya, lalu mengapa praktik ini masih sering ditemukan?!

Keberhasilan melahirkan bayi dengan manuver kristeller memang sangat memuaskan, hal itu saya alami sendiri, apalagi dengan pasien yang telah kahabisan tenaga dan mengalami kelelahan akibat proses persalinan kala I yang panjang dan melelahkan. Maka keinginan untuk mencoba kedua kali dan kesekian kali selalu ada, karna selalu ada rasa gemmeess saat kepala bayi sudah di hodge IV atau sudah crowning namun tidak didukung oleh kekuatan mengejan ibu.

Manuver kristeller atau fundal pressure sebenarnya dapat dihindari bila kelemahan mengejan ibu atau kelelahan ibu dapat terdeteksi lebih awal. Kelelahan biasanya dialami oleh pasien dengan kehamilan pertama karna pengalaman pertama selalu terasa lebih melelahkan. Pada primigravida,  Kala I selalu berlangsung lebih lama dan begitu pula pada saat kala II, seringnya ditemukan pembukaan lengkap namun kepala belum turun. Bila pembukaan lengkap terdeteksi saat kepala hodge II atau III maka disitulah intervensi untuk memperbaiki kelelahan ibu dapat dilakukan. Cara paling mudah dan efisien tentu dengan konsumsi minuman berkadar glukosa tinggi, hindari dalam bentuk makanan karna lebih lama dicerna tubuh. Bila minuman glukosa tidak membantu, dapat dengan alternatif rehidrasi dengan pemberian cairan intravena dextrose 5%.

Manuver Kristeller selalu mendapat label “metode kuno” yang tidak disarankan lagi, malah cenderung diharamkan. Saya sendiri selalu mencoba menghindarinya, namun yahh godaan “gemees” itu kadang tak tertahankan. Maka saya pun selalu “mengamankan” tekanan yang diberikan dan “memendekkan” waktu melakukan tekanan kristeller.

Mengamankan dalam artian menghindari salah lokasi pemberian tekanan dan menghindari dorongan yang tidak bermanfaat. Yang perlu ditekankan yaitu lokasi pemberian tekanan HARUS pada fundus, hentikan dorongan tidak terarah apalagi pada daerah dada, lambung dan hepar (yang sudah pasti tenaga kesehatan harus paham anatomi tubuh manusia). Manuver kristeller diberikan dalam bentuk tahanan melalui jari dan telapak tangan, bukan dalam bentuk kepalan atau tinju. Lokalisir punggung janin ada disebelah mana, misal bayi punggung kanan, maka penolong berdiri di sebelah kanan ibu. Posisikan kedua telapak tangan dengan membayangkan memegang punggung janin dan bokong janin. Tenaga dorongan/ tekanan berasal dari berat tubuh penolong bukan dari kekuatan tangan, hal ini juga untuk menghindari cedera pada penolong, maka posisi penolong paling tidak berada di atas tempat tidur disamping pasien agar posisi tangan bisa tegak lurus.

Manuver kristeller paling efektif diberikan saat ada kontraksi dibarengi kekuatan mengejan ibu. Kristeller tanpa kontraksi sama dengan sia-sia, adanya akan memberi trauma pada uterus dan meningkatkan kelelahan otot. Dan yang paling penting untuk diingat, Kristeller harus dilakukan bersamaan dengan ibu mengejan. Saat ibu mengejan/ mengedan maka seluruh otot perut berkontraksi memberi dorongan pada uterus. Salah satu otot yang ikut berkontraksi adalah otot perut rectus abdominies yang anatominya menutupi sepanjang abdomen ibu sampai ke pubis. Otot inilah yang berperan sebagai barier kita, melindungi organ dalam ibu terhadap tekanan tangan petugas yang berlebihan. Tidak jarang terjadi ruptur hepar dan perdarahan dalam saat dilakukan dorongan yang tidak terarah dan dengan kekuatan berlebihan, disinilah pentingnya kontraksi otot perut untuk melindungi cedera dalam yang tidak diinginkan. Hentikan Kristeller bila tidak ada kontraksi otot perut dan uterus. Kunci efektif Manuver Kristeller ada pada kontraksi uterus dan kekuatan mengejan ibu.

Hal lain namun juga merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan saat melakukan Manuver Kristeller adalah waktu intervensi. Bila persalinan dilakukan di RS dengan fasilitas lengkap dan siap setiap saat, menunggu turunnya kepala secara alami tanpa adanya pimpinan persalinan saat kala II dapat dilakukan maksimal selama 2 jam (masing2 institusi dapat menerapkan aturan yang berbeda). Maka jangan sekali-kali melakukan Kristeller saat kepala masih di Hodge III ke atas. Turunnya kepala tidak bisa mengandalkan tenaga Kristeller, manfaatkan gaya gravitasi semaksimal mungkin, semampu ibu. Bila kepala masih tidak turun lebih baik memilih metode lain baik vakum atau Sectio Caesarea dibanding memaksakan Manuver Kristeller.

Sekali lagi, saya tidak menyarankan tekhnik ini dilaksanakan di institusi kesehatan manapun. Pilihan kembali kepada penolong persalinan dan tentu harus ada persetujuan dengan pasien dan keluarga. Bilapun manuver ini menjadi pilihan, saya hanya mencoba memberi batasan kepada petugas untuk meminimalisir risiko yang ditimbulkan Manuver Kristeller. Sebagai pengalaman pribadi, after effect yang paling sering dirasakan pasien saya adalah ruptur perineum yang lebar dan nyeri perineum.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk Anda sekalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s